Sharing Koneksi Internet, Baru Bisa Konek Bersama

Satu posting ini melengkapai satu koneksi untuk bersama, langkah kemaren masih dalam tahap membangun akses poin. Meskipun sudah bisa terbaca oleh client, koneksi internet masih belum bisa dipakai oleh client. Kalau tidak salah, mode ad hoc dapat berbagi perangkat yang lain, misalkan printer atau sharing file.

Nah lanjut lagi dari tutorial kemaren (meskipun bukan tutorial). :D :) sekalian dengan posting ini, posting yang katanya ada link affiliasi yang menyebabkan blog ini disuspend pihak wordpress (alhamdulillah bisa diatasi)  akan menghilang dari sidebar :) :) .

Oke lanjut aja biar tidak terlalu bertele-tele (kayak perlu keker aja ya). Untuk share koneksi, buka dulu window Network and sharing center, dari window tersebut pada bagian kiri ada Change adapter setting.  otomatis tanpa harus membuka manual, maka window Network connection akan terbuka :) :) :) Baca tulisan ini lebih lanjut

Satu Koneksi untuk Bersama

Lagi demen nulis, lama tidak update langsung jos update dan update, sekaligus untuk mengusir posting yang mengandung affiliasi dari halam utama (kan udah kabur :) :) ), sekalian biar menghilang dari sidebar juga (recent post), seperti yang disebutkan pada possting sebelumnya itu lo (perintah dihapus tapi tidak dhipus, cukup diusir saja). Tapi yang jelas bukan boom (oh ada yang lupa ni, ada yang minta tukaran link belum dipasang, bentar aja dulu, semoga bisa bersabar).

Oke masuk pada materi (materi pelajaran apa ya???? ). Satu Koneksi Untuk Bersama. Apa maksudnya? Maksudnya adalah satu modem dapat dipergunakan oleh beberapa komputer yang lain untuk ikutan surfing internet. Oke berikut pengalaman yang saya lakukan dengan sebuah laptop dengan LCD pecah dan mempergunakan monitor CRT, OS Windows 7 (Acer Aspire 4732).

Langkah pertama. Masuk pada control panel –> Network and Internet –> Network and sharing center, kurang lebih gambar window yang terbuka seperti berikut ini. Baca tulisan ini lebih lanjut

Mesin Pengubah Suara Menjadi Teks Made in Indonesia

TEMPO Interaktif, Jakarta -Ingar-bingar perseteruan “cicak-buaya” tak hanya membuat repot para penegak hukum dan aktivis antikorupsi di Tanah Air. Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat pun masuk pusaran keriuhan yang menjadi sorotan media massa dan masyarakat itu. Sejak dua pekan lalu, para wakil rakyat menggelar rapat dengan petinggi Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. Rapat berlangsung berjam-jam, bahkan pernah hingga lewat tengah malam, lebih panjang dari yang dijadwalkan. Anggota Dewan seperti tak mau kehilangan panggung untuk bersuara atau berceramah.
Kalau sudah begini, yang dibikin repot adalah sekretariat komisi, yang harus mencatat semua ucapan anggota dewan dan tamunya. Mereka tak sekadar menunggu hingga rapat selesai, lalu membuat laporan singkat sebagai bahan bagi pemimpin rapat untuk membuat kesimpulan. Mereka pun harus menyalin rekaman dialog rapat.

“Targetnya, penyalinan harus selesai tiga hari,” kata Noviantika, anggota staf tata usaha Komisi Hukum. Tapi, bila rapat berlangsung maraton hingga tengah malam, seperti pembahasan isu KPK itu, target tersebut sulit dicapai. “Rekaman yang satu belum selesai, ada lagi yang harus disalin,” katanya.

Agar tak melewati tenggat, pekerjaan itu dibagi ke pegawai sekretariat jenderal Dewan dengan sistem lembur. Pemanfaatan tenaga penyalin dari luar tidak diperbolehkan karena ada yang bersifat rahasia. Akibatnya, selain menghabiskan waktu dan tenaga, pembuatan risalah rapat menyedot biaya yang tak sedikit. Noviantika mengaku tak tahu berapa biaya penyalinan dialog atau dokumentasi rapat Dewan yang memiliki 560 anggota itu. Tapi, sebagai gambaran, anggaran notulensi rapat Dewan Perwakilan Daerah, yang hanya beranggotakan 132 orang, mencapai Rp 3,6 miliar per tahun.

Waktu, tenaga, dan biaya dokumentasi rapat itu bisa dipangkas jika mereka memakai peranti lunak pengenal wicara berbahasa Indonesia buatan tim peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang diluncurkan tahun depan. Dengan Perisalah, sebutan peranti lunak itu, setiap kata yang diucapkan peserta rapat secara otomatis akan disalin menjadi tulisan dalam sekejap, runut sesuai dengan waktu bicara dari jam hingga detik. “Dengan perangkat ini, akan mudah diketahui siapa yang berbicara, tanpa harus menyalin lagi,” kata Oscar Riandi, Open Source Resource Center Manager BPPT, sekaligus ketua tim riset Perisalah.

Meski perancangnya mengatakan bahwa peranti ini masih jauh dari sempurna, demo Perisalah dalam Konferensi Global Open Source di Jakarta, akhir Oktober lalu, mengundang decak kagum ratusan pengunjung. Dengan komputer jinjing yang sudah dilengkapi peranti lunak Perisalah dan bantuan mikrofon, semua ucapan Oscar langsung diubah menjadi naskah dalam sebuah dokumen open office. Ia juga menunjukkan penggunaan Perisalah dalam rapat. Ucapan tiap pembicara disalin dalam slot tersendiri sehingga rapi dan siap dicetak. “Cepat dan praktis. Mempermudah notulensi,” kata Rani, sekretaris direksi perusahaan tambang nasional, yang ikut menyaksikan demo itu.

Perisalah mempunyai fitur penyuntingan, sehingga notulis yang berada di ruang kendali dapat melakukan penyuntingan on the fly, bersamaan ketika rapat berlangsung, tanpa mengganggu penyalinan yang dilakukan sistem di komputer. Kesalahan penyalinan dapat terjadi karena imla pembicara tidak jelas, gangguan suara lain, atau seperti saat ini karena model yang ada pada bank data suara masih sedikit. Oskar mengatakan, dengan fitur ini, koreksi penyalinan yang salah dapat diperbaiki oleh pencatat notula selama rapat berlangsung. “Draf risalah rapat dapat diselesaikan tidak lama setelah rapat selesai,” katanya.

Selain menghasilkan risalah rapat, peranti lunak ini mampu menghasilkan ikhtisar atau resume hasil rapat. Oskar menjelaskan, resume dibuat menggunakan SIDoBI (Sistem Ikhtisar Dokumen untuk Bahasa Indonesia) yang juga dikembangkan BPPT.

Perisalah tidak hanya dapat menghasilkan risalah rapat dalam versi lengkap tetapi juga dapat mengeluarkan risalah dalam bentuk resume rapat. Resume rapat dapat berupa dokumen dengan jumlah kalimat absolut, misalnya sepuluh atau seratus kalimat. Bisa pula dalam bentuk persentase dari risalah utuh, misalnya sepuluh persen, seperempat, atau separuh risalah.

Oskar mengatakan pembuatan Perisalah dimulai pada akhir 2008. Peranti ini merupakan pengembangan LiSan (Linux dengan Lisan) yang dikembangkan Pusat Teknologi dan Informasi dan Komunikasi BPPT sejak dua tahun lalu. LiSan merupakan pengembangan IGOS Linux Voice Command dengan memanfaatkan Free/Open Source Software (FOSS). LiSan berjalan dengan sistem operasi Linux yang memiliki jendela pengatur berbasis Gnome. “LiSan merupakan perangkat lunak pengenal wicara (speech recognition) berbahasa Indonesia pertama yang digunakan untuk mengoperasikan komputer dan penulisan dokumen,” ujarnya.

Penggunaan suara sebagai man-machine interface merupakan terobosan dalam peningkatan aksesibilitas komputer. Prinsip interaksi dengan komputer melalui keyboard dan tetikus digantikan interaksi melalui suara yang diterima mikrofon yang selanjutnya dikonversi menjadi bentuk yang dikenali komputer untuk menjalankan perintah ataupun menulis dokumen. Dengan peranti ini, kesenjangan digital antara manusia normal dan yang memiliki keterbatasan fisik bisa dikurangi. “Bagi pengguna normal, LiSan membuat penulisan dokumen lebih cepat dan memberikan peluang pengoperasian komputer hands freely,” kata Oskar.

Khusus untuk penyandang keterbatasan fisik, teknologi pengubah suara menjadi naskah dan sebaliknya telah dikembangkan untuk membantu mereka berkomunikasi menggunakan telepon. Divisi Riset dan Teknologi Informasi Telkom yang mengembangkan peranti lunak itu lima tahun lalu. Dengan peranti ini, ucapan lawan bicara akan diubah menjadi teks yang dibalas dengan tulisan oleh penelepon tunarungu. Demikian pula sebaliknya, tulisan yang dibuat penyandang tunarungu diubah menjadi suara. Tapi kian mudahnya layanan pesan singkat dan surat elektronik membuat perangkat itu tak banyak berkembang.

LiSan dapat dioperasikan dalam tiga ragam, yaitu diam, perintah, dan tulis. Ragam diam digunakan ketika pengguna tidak ingin suaranya diproses oleh LiSan menjadi perintah atau penulisan dokumen. Ragam perintah digunakan saat mengoperasikan komputer, seperti menjalankan program dan membuka dokumen atau sebaliknya. Ragam tulis digunakan pada saat penulisan dokumen. Ragam yang terakhir ini sangat membantu mereka yang pekerjaannya berhubungan dengan tulis-menulis dan dikejar tenggat, seperti sekretaris dan wartawan. Mereka tinggal mendiktekan kalimat, tulisan pun langsung jadi.

Peranti lunak ini memang belum sempurna. Kesalahan penyalinan dari ucapan menjadi naskah kerap terjadi sehingga peran penyunting menjadi sangat penting. Oskar mengatakan, kendala utama adalah kurangnya model suara yang tersimpan pada sistem. Ketika dipertunjukkan pada akhir bulan lalu, sistem Perisalah ini hanya menyimpan lima suara laki-laki dan lima perempuan dengan masing-masing mengucapkan 45 ribu kata. “Idealnya 500 laki-laki dan 500 perempuan,” katanya. Model suara harus terus ditambah sebelum peranti ini diluncurkan enam bulan lagi.

Tulisan di rumah satunya

Menemukan Suatu Tempat Tanpa GPS

Jakarta (ANTARA) – Ajang Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC) 2009 berhasil menghadirkan penemuan aplikasi pencari letak tanpa harus menggunakan GPS.

Dalam kontes yang telah memasuki babak final di Jakarta, Kamis, menetapkan karya inovatif bernama CLIG, karya Sandy Marly Colondam dari Jakarta sebagai karya terbaik untuk sub-kategori Business & Commerce CLIG merupakan singkatan dari Cell ID Getter.
Dengan “Application Protocol Interface” (API) yang dapat menambahkan fitur “Location Based Service” ke semua Mobile WEB dengan integrasi yang sangat mudah itu maka user dapat mengetahui letak misalnya stasiun bus terdekat tanpa menggunakan GPS.

Selain itu, beberapa karya lain juga keluar menjadi karya terbaik untuk beberapa sub kategori antara lain BukuQ karya Fajar Endra Nusa untuk sub-kategori Social Networking, Role Playing Game karya Indah Palupi Damayanti untuk sub-kategori Learning & Education, UltraPort karya Andry untuk sub kategori Android Based Application.

Khusus untuk sub kategori terbaru yaitu Android Based Application, dua hasil karya pemenangnya telah dikirim ke ajang Pengembangan Program Aplikasi Android oleh Conexus Mobile Alliance yang diadakan di Grand Ballroom, Harbour Plaza Hong Kong 17 November 2009.

Karya ini merupakan dua dari 13 finalis yang terpilih dari seluruh Asia Pasifik yang akan dipamerkan dalam konferensi pers dan kegiatan bertaraf internasional tersebut.

Conexus Mobile Alliance adalah salah satu aliansi ponsel terbesar di Asia yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan roaming internasional dan layanan mobile bagi para pelanggan dari perusahaan anggota aliansi ini, termasuk Indosat (Indonesia).

Ajang IWIC 2009 ditangani oleh dewan juri yang berasal dari berbagai kalangan seperti tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Prof Suhono Haryosupangkat (Guru Besar Teknologi Informasi ITB), AW Subarkah (wartawan senior Kompas), Pamungkas Tris Hadiatmoko (vendor telekomunikasi), serta Tim Business Development Indosat dan Tim Gaming & Content Indosat.

Sebanyak 21 karya diputuskan sebagai finalis dari hampir 300 karya yang masuk untuk 2 kategori dan 4 sub kategori yang dikompetisikan.

Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC) 2009 sendiri merupakan sebuah kompetisi INOVASI yang diselenggarakan Indosat di bidang teknologi Wireless menjelang ulang tahun ke-42.

“Sejak tahun 2006 IWIC hadir untuk masyarakat dan menjadi bagian dari program tanggung jawab perusahaan (CSR) dalam bidang pendidikan melalui payung program Indonesia Belajar,” kata Chief Marketing Officer Indosat, Guntur Siboro, setelah menyerahkan hadiah pada grand final IWIC 2009.

Pada ajang IWIC tahun ini, Indosat memberikan berbagai apresiasi bagi karya inovatif, yaitu hadiah total ratusan juta rupiah beserta perangkat gadget paling mutakhir untuk kategori Mobile Wireless Application.

Sedangkan bagi para pemenang Research and Development in Wireless Technology akan mendapatkan Dana Riset senilai total Rp500 juta.

Tulisan Rumah yang satunya

N-Gage Dikubur Oleh Nokia

Usia N-Gage bakal tak lama lagi setelah keputusan pahit dikeluarkan oleh manajemen Nokia. Setelah enam tahun berjalan, perusahaan asal Finlandia ini memutuskan untuk mengakhiri semua platform game untuk N-Gage, berikut layanan-layanan yang menyertainya.

Melalui blognya, Nokia mengumumkan kepada para penggunanya bahwa mereka tak akan lagi menerbitkan game baru untuk platform N-Gage, sekaligus bersiap menutup situs N-Gage.com beserta komunitasnya pada akhir tahun depan.
Sedang untuk penjualan game-nya masih akan dilanjutkan, meski sampai September 2010 saja.

Lantas bagaimana dengan nasib pecinta game yang merupakan pelanggan setia platform ini? Ternyata Nokia memiliki rencana di balik penumbalan N-Gage, yakni untuk mengalihkan semua ke toko aplikasi Nokia, Ovi Store.

“Sejalan dengan perkembangan mobile gaming, kami ingin menawarkan satu toko dengan sederet portofolio game yang lebih luas: game untuk semua orang. Memiliki satu tempat untuk semua mobile game merupakan suatu hal yang menyenangkan. Dan ini yang Ovi Store sediakan,” tulis Nokia.

Penumbalan N-Gage tentu saja membuat sedih para penggemarnya. Khususnya mereka yang tergabung dalam N-Gage Arena, situs di mana para gamers bisa berinteraksi dalam forum dan mem-posting skor tertinggi.

“Aku hanya tidak percaya, bahwa platform yang luar biasa dan memiliki potensi besar, dihapus hanya untuk Ovi?” tulis salah satu user, seperti detikINET kutip dari PC World,

Main Nitendo Dengan Handphone

Vendor ponsel brand China, eTouch Mobile, merilis ponsel X88 dengan desain candybar. Meski terlihat kontemporer, ponsel ini katanya punya teknologi yang cukup unik karena bisa dipakai main game layaknya Nintendo Wii.

Teknologi yang diusung ponsel dual-on GSM+GSM 850/900/1800/1900 MHz ini adalah fitur sensor gerak bertajuk Motion Game.
Pengguna dapat memfungsikan ponsel X88 untuk bermain game secara wireless, layaknya joystick contoller pada Nintendo Wii–dengan gerak ke kiri, kanan, atas, dan bawah–dengan sebuah koneksi Bluetooth pada komputer.

“Kami selalu ingin menonjolkan kreativitas dan keunikan dalam hal fitur dan teknologi pada produk kami,” ujar Vice Presiden eTouch Indonesia Hendra Gouw, dalam keterangan pers yang detikINET kutip, Rabu (21/10/2009).

eTouch menyuguhkan sejumlah pilihan game yang telah tersedia dalam bentuk CD di kemasannya. Kehadiran ponsel anyar ini diharap mampu memuaskan para gamer yang sering bepergian.

“Dengan ponsel ini, mereka akan lebih praktis dan dimudahkan dalam bermain game, sekaligus bisa digunakan untuk berkomunikasi,” lanjut Hendra.

Pada X88, eTouch juga membenamkan aplikasi jalan pintas Facebook untuk berinteraksi secara online yang didukung dengan konektivitas GPRS class 12.

Selain akses data GPRS, ponsel berdimensi 105×46x13mm ini juga mempunyai koneksi Bluetooth A2DP dan miniUSB. Terdapat pula slot microSD untuk tambahan memori.

Ponsel yang dibanderol Rp 1,3 juta ini juga memiliki fitur TV tunner dengan tampilan visual yang bisa ditonton secara vertikal maupun horizontal.

Satelit Nano Buatan Anak Bangsa

Satelit mini atau nano-satelit buatan mahasiswa Indonesia akan diluncurkan pada tahun 2012, karena pembahasan antarmahasiswa UGM, ITB, ITS, UI, dan PENS ITS serta mahasiswa Indonesia di luar negeri sudah dimulai.

“Mulai tahun ini (2009), kami melakukan serangkaian pertemuan dengan mahasiswa dari berbagai kampus,” kata peneliti asal Indonesia di TU Delft Belanda, Dedy H.B. Wicaksono, PhD., di Surabaya, Senin.
Di sela-sela Lokakarya INSPIRE (Indonesian Nano Satellite Platform Initiative for Research & Education) di PENS ITS, ia mengatakan pertemuan akan berlanjut dengan penelitian secara intensif di Belanda atau di Indonesia.

“INSPIRE merupakan forum pertemuan antarmahasiswa dengan berbagai stakeholder dari pemerintah dan lembaga riset untuk mendorong penguasaan teknologi satelit sejak kalangan mahasiswa,” katanya.

Alumnus Teknik Fisika ITB Bandung (S1) pada tahun 1934-1998 itu menyatakan Indonesia sangat membutuhkan satelit untuk peta hutan, perikanan, bencana alam, kepulauan, kriminalitas laut, dan sebagainya.

“Kita sudah memiliki Satelit Palapa dan usianya sudah 30 tahunan. Teknologinya dibuat di luar negeri, sehingga devisa negara akan tersedot keluar dan kita akhirnya tidak memiliki kemandirian,” kata alumnus Tokyo University of Technology (S2) itu.

Menurut alumnus TU Delft Belanda (S3) itu, satelit yang besar itu membutuhkan dana yang mahal hingga ratusan miliar atau bahkan triliunan, namun nano-satelit hanya berkisar Rp5 miliar dan satelit mini akan bertahan selama kurun tiga tahunan.

“Tidak hanya murah, tapi nano-satelit itu sebenarnya dapat kita kuasai dengan mudah, apalagi di dalamnya sudah ada unsur pendidikan, aspek aplikasi teknologi, dan penelitian lintas keilmuan seperti telekomunikasi, elektronika, energi surya, dan sebagainya,” katanya.

Oleh karena itu, kata penggagas INSPIRE itu, para dosen dapat mendorong mahasiswa telekomunikasi yang selama ini merumuskan tugas akhir (TA) tentang alat-alat telekomunikasi seperti handphone (HP), namun kini dapat mengarahkan TA pada bidang satelit.

“Jadi, pembahasan dapat dilakukan pada tahun 2009, lalu tahun 2010 dengan penelitian intensif, bahkan TU Delft sangat senang bila penelitian dapat dilakukan di Belanda, kemudian tahun 2011 dilakukan persiapan dan tahun 2012 ada peluncuran,” katanya.

Senada dengan itu, Sekretaris Menkominfo, Dr Eng. Son Kuswadi, menyatakan dana pembuatan nano-satelit hanya Rp5 miliar dan bila dimulai dengan pertemuan, penelitian, hingga akhirnya peluncuran nano-satelit, maka akan dibutuhkan dana sekitar Rp10 miliar.

“Pembahasan lewat workshop yang melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai universitas itu akan kita lakukan dua kali selama tahun 2009, termasuk pembahasan dengan LAPAN, BPPT, IPTN, Departemen Kelautan dan Perikanan,” katanya.

Setelah itu, kata dosen robotik PENS ITS Surabaya itu, pembahasan intensif untuk aplikasi akan dilakukan di TU Delft Belanda dan di Indonesia hingga tahun 2011.

“Tahun 2012 akan kita lakukan peluncuran, apakah peluncuran akan memanfaatkan lembaga sejenis LAPAN di Indonesia yang sudah memiliki lokasi peluncuran roket atau mungkin LAPAN juga sudah siap pada tahun itu,” katanya.

Ia menambahkan pemanfaatan nano-satelit itu akan diaplikasikan untuk fungsi telekomunikasi di saat bencana alam dan pencegahan pencurian ikan. “Nantinya, bisa juga untuk sensor cuaca,” katanya.