Terlalu Dini Pacaran Bahaya….!!!!

Jakarta, Jangan dulu pacaran kalau masih kecil. Begitu nasihat yang sering disampaikan orangtua pada anaknya yang masih remaja. Ternyata nasihat orangtua itu didukung oleh peneliti, semakin dini seseorang menjalin cinta semakin besar risiko sakit hati, depresi bahkan sakit-sakitan.

Dalam Journal of Pain, peneliti dari Universite de Montreal, University Hospital Center dan McGill University menemukan anak remaja yang mulai pacaran sejak usia dini lebih banyak mengalami sakit kepala, perut dan pinggang. Mereka juga dilaporkan lebih banyak depresi dibanding rekan seusianya yang belum pernah pacaran.
Dr Isabelle Tremblay, seorang peneliti dari Universite de Montreal serta Dr Michael Sullivan, seorang profesor psikolog dari McGill University telah melakukan studi untuk mengetahui pengaruh menjalin hubungan sejak dini terhadap kesehatan seseorang.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Perokok Aktif Penyebar Kanker

Wuih, ngeri………… jadi penyebar penyakit ni rupanya diriku. aku adalah seorang perokok yang lumayan aktif dan masuk katagori berat ringan. dua bungkus surya 12 dalam sehari. dari sebuah tulisan yang di copas dalam postingan kali ini ternyata sekitar 3 juta perokok aktif adalah penyebar kanker. bagaimana berita selengkapnha?????????
nyok baca bersama
JAKARTA, KOMPAS.com – Merokok tampaknya masih biasa dilakukan di tempat umum di Jakarta. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI, Minggu (15/11), mencatat, ada sekitar 3 juta perokok aktif di Ibu Kota. Mereka berpotensi mengidap kanker ganas dan memicu penyakit serupa tumbuh pada orang-orang di dekatnya.

”Perokok di Jakarta masih melakukan hobinya di angkutan umum, tempat belajar, hingga tempat ibadah. Belum ada kesadaran bahwa kebiasaan dan asap yang dikeluarkannya membahayakan dirinya dan orang lain. Kesadaran ini yang mesti ditanamkan,” kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Sanitasi Lingkungan BPLHD DKI Joni Tagor, Minggu di Kota Tua, Jakarta Barat.

Keprihatinan atas aktivitas merokok yang membudaya di masyarakat berusaha terus diperangi dengan berbagai kampanye antirokok. Pada Minggu, kampanye antirokok dilakukan seiring dengan pelaksanaan hari bebas kendaraan bermotor tingkat kota yang diselenggarakan di kawasan Kota Tua, Jakbar.

Kampanye antirokok ini hasil kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota Jakarta Barat, serta sukarelawan dari Badan Layanan Umum Transjakarta, Universitas Trisakti, Wanita Indonesia Tanpa Tembakau, Muhammadiyah, Organda, pengelola terminal bus se-Jakarta, dan anggota pramuka.

”Ini bagian dari program smoke free Jakarta dari BPLHD. Poster berbagai ukuran dan stiker larangan merokok sudah disebarkan untuk mengurangi efek negatif rokok,” ujar Joni.

Meilani (28), salah satu peserta kampanye antirokok, menyatakan amat bersemangat ikut kegiatan ini. ”Saya dulu perokok, tetapi berhenti total setelah hamil dan melahirkan. Saya juga ngeri dengan pengalaman seorang teman. Bayangkan, suami teman itu tidak pernah merokok, tetapi bergaul dengan perokok di tempat kerjanya. Sekarang dia mengidap kanker paru stadium 3, dan kata dokter, salah satu penyebab utamanya adalah asap rokok. Kasihan, kan?” katanya.

Sesuai aturan Peraturan Daerah Pengendalian Polusi Udara Nomor 2 Tahun 2005, merokok dilarang dilakukan di fasilitas sosial dan fasilitas publik, termasuk kendaraan umum. Mulai dari sopir, kondektur, sampai penumpang yang melanggar bisa dihukum penjara hingga enam bulan dan denda maksimal Rp 50 juta.

Saat ini di Jakarta ada sedikitnya 1,4 juta angkutan umum yang melayani mobilitas masyarakat. Namun, hanya taksi dan bus transjakarta yang relatif aman dari asap rokok. Untuk itu, kampanye bebas rokok di kendaraan umum terus dilakukan.

Beberapa pengguna angkutan umum meminta pemerintah tidak cuma kampanye. ”Terapkan hukumannya. Kampanye tidak berpengaruh. Itu lihat, sopirnya langsung nge-rokok lagi, kan?” kata Rahmawati, wisatawan di Museum Bank Mandiri.

Senada dengan Rahmawati, Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai, pemerintah tidak konsisten menerapkan larangan merokok.

”Lihat saja di kantor pemerintahan, karyawannya banyak yang merokok sembarangan. Ruang khusus merokok dibiarkan menganggur. Konsisten ke dalam dulu, lalu ke masyarakat, dan terapkan sanksi. Mungkin baru ada hasilnya,” kata Tulus.

Calon Pendamping Kita Mengidap HIV, Bagaimana ….????

JAKARTA, KOMPAS.com – Saya seorang wanita berusia 26 tahun yang akan menikah dalam waktu 3 minggu lagi, tapi calon suami saya seminggu yang lalu masuk ke rumah sakit dan dokter menyatakan ia terpapar AIDS, betapa syoknya saya. Saya tahu masa lalunya bahwa ia mantan pencandu narkoba dan suka mentato. Tapi yang membuat saya stres adalah hubungan saya yang telah terlanjur jauh sampai sudah melakukan hubungan suami istri. Rasanya dunia seperti mau runtuh saja. Saya takut terkena HIV juga. Kami baru kenal 11 bulan dan sudah berkali – kali melakukannya. Apa yang harus saya perbuat? Apakah saya terkena HIV juga? Haruskah tetap menikah?
Y di J

Mbak Y yang sedang resah, saya tahu banyak sekali yang melanda pikiran Anda dengan ketakutan mengenai HIV/AIDS. Ini bagaikan sebuah bom bagi Anda, sebentar lagi seharusnya menjadi hari bahagia Anda tapi ternyata Anda malahan dilanda masalah. Memang tidak mudah pastinya.

Yang Dialami oleh Pasangan Anda
Pasangan Anda sama syoknya seperti Anda saya rasa, Ia takkan menduga kenakalannya dulu bisa menjadi seperti ini sekarang. Andai ia bisa memprediksi mungkin takkan seperti ini jalan yang akan dia ambil, akan tetapi, semua sudah terlanjur terjadi, sehingga harus dipikirkan ke depannya. Sebaiknya berobatlah teratur dan lakukanlah pengontrolan rutin ke dokter, karena dengan pengontrolan rutin kualitas hidup akan lebih baik meski virus HIV tidak akan bisa hilang dari dalam tubuh.

Tes HIV
Menurut saya, sebaiknya Anda secepatnya melakukan tes HIV, dan tidak cuma sekali tapi dilakukan berkali – kali dalam jangka waktu yang cukup lama. Sejauh ini, skrining pemeriksaan yang dianjurkan dalam berbagai macam literatur adalah 3 minggu, 3 bulan dan 6 bulan setelah Anda merasa terpapar dengan virus HIV.

Pemeriksaan berkala dilakukan karena virus HIV mempunyai masa window period yaitu masa dimana virus itu tidak terdeteksi oleh tubuh meskipun berada di dalam badan. Window period ini bisa terjadi setelah 3 minggu hingga 6 bulan terpapar virus HIV sehingga sebenarnya virus ada tapi antibodi terhadap virus HIV belumlah terbentuk, meskipun orang dengan HIV bisa terdeteksi setelah 30 hari pemaparan virus HIV terjadi, akan tetapi mayoritas populasi pada umumnya (99%) terdeteksi setelah 3 bulan.

Window period hingga 6 bulan sangatlah jarang terjadi tapi bisa saja ada, jadi sangatlah disarankan untuk melakukan test berulang setiap 3 bulan hingga 6 bulan bahkan sampai 1 tahun setelah pemaparan jika ada gejala klinis yang mendukung ke arah sana, bahkan ada beberapa penelitian menyarankan hingga lewat dari 1 tahun. Biasanya hal ini bisa dikonsultasikan dengan dokter Anda nantinya seberapa sering Anda harus datang untuk memeriksa.

Yang dialami oleh Anda
Pernikahan sudah di depan mata dan rasanya semua hilang begitu saja, apalagi ditambah perasaan stres karena calon pasangan anda terpapar HIV, lalu bagaimana dengan semuanya? haruskah anda batalkan?
Saya rasa itu semua kembali ke diri Anda. bila Anda ternyata positif HIV apakah Anda akan tetap membatalkannya? Lalu bagaimana dengan negatif? Kadangkala Anda perlu berpikir jauh ke depan sebelum mengambil keputusan.

Sebelum Anda mengambil keputusan yang nantinya akan membuat Anda menyesal sebaiknya konsultasikanlah dahulu dengan orang terdekat Anda termasuk pasangan Anda karena ini bukanlah hal yang bisa diputuskan dalam waktu singkat, akan lebih berguna bila Anda mengetahui pula status HIV Anda sehingga Anda bisa mengambil keputusan yang lebih rasional dengan keadaan. Jangan lupa untuk selalu berdoa dan tentu saja saya berharap yang terbaik untuk Anda.

Demi Anak Naik Motor dari Riau ke Jakarta

KOMPAS.com — Gerah tidak mendapat perhatian dari pihak terkait di Riau, Ide Syamsuddin nekat ke Jakarta dengan mengendarai motor. Terik mentari tidak ia pedulikan. Kamis 22 Oktober 2009 pukul 13.00 bersama Honda Supra 125 tahun 2009 warna merah dengan nopol BM-4155-V, ia meninggalkan rumahnya.

Setelah melewati tiga provinsi melalui Jalan Lintas Timur Sumatera, Ide yang beralamat di Jalan Kartini 15 Candirejo, Air Molek, Indragiri-Hulu (Inhu), Riau, akhirnya sampai di Jakarta pada Jumat (23/10) pukul 23.00. Di Ibu Kota negara yang baru kali pertama ia datangi, asanya menunggal untuk mencari keadilan bagi anaknya, EF (10), yang diduga menjadi korban malapraktik.

Melapor ke KPAI

Lembaga pertama di Jakarta yang ia sambangi adalah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Ia datang setelah mendapat rekomendasi dari KPAI Riau. Langkah ini diambil setelah Bupati Inhu, Polres Rengat, Polda, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Riau sampai ke Gubernur Riau tidak pula menyelesaikan persoalan. “Bahkan, Pemda dan Ketua IDI Riau sudah ke rumah saya, tapi mana hasilnya?” kata Ide di Kantor KPAI Jakarta, Jumat (6/11). Ide didampingi oleh istri dan anaknya EF yang datang menyusul Ide setelah satu minggu Ide ngekos di daerah Pasar Rebo.

Semuanya bermula saat EF mengeluh sakit. Tanggal 27 Juli 2008, EF anak pertama dari tiga bersaudara dibawa ke RS Ibnu Sina Air Molek Kabupaten Indragiri Hulu-Riau. Oleh dokter setempat, dr R, ia dinyatakan sakit tifus. Namun untuk memastikannya, EF dibawa ke RSUD Indrasari Pematang Reba Kabupaten Indragiri-Hulu Riau. Di rumah sakit kedua, dr IB memastikan kalau EF menderita usus buntu. Kesimpulan itu dibuat setelah IB hanya memegang EF. “Ini usus buntu. Ini harus secepatnya dioperasi. Kalau tidak, bisa infeksi, pecah. Lalu dibersihkan dan dikeluarkan ususnya. Kalau bisa malam ini juga pukul delapan dioperasi,” ungkap Ide mengulang kalimat IB.

Keesokan harinya, 29 Juli 2008, EF dioperasi oleh IB. Anehnya, menurut Ide yang berprofesi sebagai perajin, operasi ini tidak didahului dengan diagnosis. Lebih dari itu, baik IB maupun pihak rumah sakit tidak mengajukan informed concent untuk mendapatkan kesepakatan dengan pihak keluarga atas operasi EF. Parahnya, selama 8 hari pasca-operasi, IB hanya sekali memeriksa keadaan EF. Pada hari keempat, IB mengatakan bahwa usus EF dalam keadaan baik. Padahal, kondisi EF semakin parah. “Anehnya, para perawat di situ bilang, ‘kalau Bapak sayang pada anak Bapak, bawalah anak Bapak rujuk ke Pekanbaru karena sudah banyak yang meninggal karena ini. Kalau Bapak menunggu rujukan dari IB, tidak akan ada’,” papar Ide mengenang.

Mendengar hal itu, Ide yang lulusan SMA memutuskan membawa anaknya ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Riau. Di rumah sakit ini, EF dirontgen empat kali. Sayangnya, tidak ada tindakan medis lain setelah itu. Maka, setelah satu hari satu malam, Ide memindahkan anaknya ke RS Awal Bros Pekanbaru, Riau. Saat itu, dokter yang menangani EF adalah dr Zul Asdi. “(Anak Bapak) ini sudah parah dan sudah infeksi usus,” ujar Zul.

Setelah dirontgen, Ide mengatakan bahwa EF dioperasi dua kali. Operasi pertama berhasil memotong 22 sentimeter usus yang sudah membusuk. Kemudian, sebanyak 6 sentimeter usus EF kembali dibuang dalam operasi kedua. “Pada akhirnya, anak saya dioperasi tiga kali dalam waktu 45 hari dan kehilangan usus 35 sentimeter yang mana IB yang melakukan operasi pada anak saya tanpa diagnosis dan persetujuan saya,” tukas Ide.

Dampak malapraktik

Peristiwa dugaan malapraktik tersebut sudah setahun lewat. Kini, kondisi EF tampak sehat. Berjalan pun sudah seperti biasa. Namun, ada kebiasaan makan yang berubah pada EF. Kalau dulu, kisah Ide, EF sekali makan satu piring. Kini anaknya itu hanya mampu makan seperempatnya. Seperempat bagian lagi dimakan dua jam berikutnya, dan seterusnya. “Selain itu, anak saya sampai sekarang sudah tiga kali mengalami kejang sampai koma. Saya sendiri tidak tahu apakah ini akibat malapraktik. Yang jelas, itu terjadi setelah kejadian itu,” papar Ide.

Selain itu, ia menambahkan bahwa biaya pengobatan EF di empat rumah sakit dan tiga kali operasi sebanyak Rp 180 juta. Ia mengaku uang sebanyak itu tidak mampu ditanggung sendiri. “Saya dapat kemurahan dari mertua. Ia menjual rumahnya,” ujar Ide sambil berkaca-kaca dan menahan isak tangis.

Yang lebih memprihatinkan, ia mendapati bukan hanya EF saja yang diduga korban malapraktik IB. Ada 12 anak lain yang keluarganya mengaku pada Ide sebagai korban dugaan malapraktik. Itulah yang menjadikan tambahan motivasi untuk membawa kasus ini sampai ke Jakarta. “Selain memang IDI setempat tidak bertindak apa pun,” ungkap Ide.

Langkah KPAI

Mendapat laporan dari Ide dan rekomendasi dari KPAI Riau, pihak KPAI yang diwakilkan oleh Komisioner KPAI Magdalena Sitorus langsung mengambil langkah. Menurut Magdalena, KPAI telah mengirimkan surat ke Kapolda Riau agar segera menyelesaikan kasus dugaan tindak pidana malapraktik.

Selain itu, KPAI juga telah melaporkan hal ini ke Menteri Kesehatan, IDI, dan Majelis Kehormatan Kedokteran Indonesia pada 4 November 2009. “Kita ingin dalam kasus ini, Ikatan Dokter Indonesia hendaknya proaktif dan bersikap netral dan tidak menutup-nutupi. Jangan sampai diterjemahkan masyarakat (IDI) membela koleganya,” harap Magdalena.

Belajar dari kasus ini, ia menambahkan bahwa ke depan, hal serupa tidak terulang. Memang dari segi laporan yang masuk, dugaan malapraktik pada anak seperti EF ini tidak banyak. “Namun, bukan dari segi kuantitas yang kita lihat. Kesalahannya itu sudah menyangkut segi kualitas yang sangat membahayakan,” pungkas Magdalena.

Wuih, Ternyata Eva Green Suka Bugil

Kebanyakan artis ragu bahkan memakai peran pengganti saat harus beradegan bugil. Namun Eva Green justru sebaliknya. Ia suka beradegan bugil.

Menurut ‘Bond Girl’ dalam ‘Casino Royale’ itu ia dengan senang hati akan melucuti pakaiannya demi peran dalam sebuah film.
“Aku suka menunjukkan emosi saat beradegan bugil,” ujarnya seperti detikhot kutip dari Female First, Minggu (1/11/2009).

Walau terkesan sangat PD namun ternyata Eva memiliki rasa rendah diri. Ia mengaku mengalami insekuritas terhadap dirinya sendiri. Dan salah satu tujuannya menjadi selebriti adalah untuk menghilangkan rasa insekuritas tersebut.

“Aku benci bentuk tubuhku. Karena itu aku memutuskan untuk berakting,” ujarnya lagi.

Kamar Mandi Bukan Sekedar Tempat Cuci

VIVAnews – Penataan kamar mandi seringkali diabaikan dan hanya dibuat sebatas fungsinya saja tanpa mempertimbangkan segi estetika. Padahal fungsi dari kamar mandi tidak hanya untuk membersihkan diri saja, tetapi juga bisa dijadikan tempat menenangkan pikiran.

Kamar mandi selalu kita gunakan sehari-hari, jadi mood kita bisa juga bisa ditentukan dengan suasana kamar mandi. Jadi akan lebih baik jika kamar mandi ditata dengan mempertimbangkan segi visual tanpa mengabaikan segi fungsionalnya.
Perkembangan desain kamar mandi saat ini cukup pesat, Anda bisa memilihnya sesuai selera. Menurut buku “Menata Interior Rumah Mungil Modern Minimalis” yang ditulis oleh tim dari Samaya Stylish Living terbitan Transmedia, ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah kamar manadi, yaitu :

- Sirkulasi udara. Perputaran udara dalam kamar mandi harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai saat mandi, udara terasa pengap, dan bau kotoran terperangkap dalam kamar mandi. Pastikan ventilasi udara berjalan baik, bisa melalui lubang pintu, jendela atau memasang exhaust fan.

- Cahaya. Jika kamar mandi memungkinkan untuk mendapatkan cahaya alami dari luar akan sangat baik. Jadi, saat siang hari Anda tidak perlu menyalakan lampu untuk mendaptkan penerangan.

- Material dinding dan lantai. Pastikan material dinding dan lantai tidak mudah tumbuh lumut dan juga tidak cepat kusam karena terkena sabun. Pilih juga material lantai yang tidak licin.

- Kesesuaian selera. Tambahkan ornamen pada kamar mandi yang sesuai dengan selera Anda. Manfaatkan penggunaan warna favorit dan tatalah kamar mandi senyaman mungkin bagi Anda.

- Anggaran. Sesuaikan material yang Anda beli dengan anggaran yang Anda miliki. Pintar-pintarlah memilih material yang berkualitas. Saat ini sudah banyak tempat yang menjual material bahan dengan harga terjangkau dan berkualitas baik.

Cegah Kanker Dengan Kunyit

KOMPAS.com – Ilmuwan Inggris sedang meneliti khasiat ekstrak berbahan dasar kunyit yang terdapat dalam makanan kari pedas. Dugaan awal, ekstrak tersebut berpotensi membunuh sel kanker.

Tak main-main, ekstrak itu bekerja pada 24 jam pertama sejak dikonsumsi. Bahan kimia tersebut—curcumin—telah lama diketahui memiliki daya memulihkan tenaga dan telah dites sebagai cara pengobatan radang sendi dan kepikunan.
Meskipun masih dalam skala laboratorium, tes oleh tim dari Cork Cancer Research Centre menunjukkan daya hancur curcumin terhadap sel-sel kanker kerongkongan.

Sejumlah ahli kanker menyebutkan, temuan yang dipublikasikan dalam British Journal of Cancer tersebut dapat membantu para dokter menemukan cara pengobatan di luar model pengobatan sekarang.

Seorang anggota tim peneliti, Dr Sharon McKenna, mengakui bahwa para peneliti telah lama tahu potensi bahan-bahan alami yang menyembuhkan sel-sel yang salah, seperti curcumin.

Para dokter di Inggris berharap pada temuan yang lebih maju untuk mengobati kanker kerongkongan. Setiap tahun sekitar 7.800 orang didiagnosis kanker kerongkongan di Inggris.

Kanker jenis itu menjadi enam besar kanker mematikan atau sekitar 5 persen dari angka kematian di Inggris. Dari sudut pandang sumber daya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tanaman herbal berpotensi obat melimpah. (BBC NEWS/GSA)